Solusi untuk Cerita Seorang Pekerja

Solusi untuk Cerita Seorang Pekerja – Punya pekerjaan bukan saja keinginan saya, kamu, dia dan mereka, tapi semua kita mendambakannya. Tanpa pekerjaan, label pengangguran tentu akan disematkan. Makanya tak heran, banyak diantara kita termasuk saya yang rela menempuh pendidikan tinggi setinggi-tingginya dengan tujuan akhir adalah mendapatkan pekerjaan dan ujung-ujungnya akan menyisakan sebuah cerita seorang pekerja.

Kalaulah ada yang bercerita, “saya kuliah bukan untuk bisa mendapatkan pekerjaan, tapi untuk ini, tapi untuk itu” ya, dengarkan saja ceritanya. Tapi kelak, lihatlah apakah dia menggunakan ijazahnya untuk melamar pekerjaan diinstansi A atau instansi B.

Solusi untuk Cerita Seorang Pekerja

Bagi saya, cerita “saya kuliah bukan untuk bisa mendapatkan pekerjaan” hanya sebuah teori belaka. Mungkin saja karena sejak awal duduk dibangku kuliah sudah didoktrin “kalian kuliah bukan untuk mendapatkan pekerjaan”, makanya lahirlah cerita-cerita semacam itu.

Guna mendapatkan pekerjaan, selain menempuh pendidikan, ada juga sebagian rela main suap-suapan. Tak peduli berapa, yang penting mendapatkan pekerjaan. Bahkan pola-pola seperti orang tak berpendidikan ini juga dilakukan oleh beberapa diantara mereka yang telah memegang ijazah S ini dan ijazah S itu sehingga tidak dipungkiri, ini juga menjadi bagian dari cerita seorang pekerja tentang bagaimana dia mendapatkan pekerjaan.

Suap-menyuap bukan saja dilarang oleh hukum negara, tapi juga ditentang oleh hukum islam. Saya sendiri berpendapat bahwa, pola suap-meyuap untuk mendapatkan pekerjaan ibarat kita menanam mangga. Mangga tentunya nantinya akan berbuah mangga.

Silahkan diterjemahkan sendiri. Kalau pekerjaan yang didapat dengan cara-cara terlarang, bagaimana hasil atau gaji yang didapat dari pekerjaan tersebut? Bukan tidak mungkin, hasil dari pekerjaan tersebut juga diberikan kepada orang-orang tersayang.

Makanya sekarang timbul pendapat, anak haram bukanlah anak yang lahir diluar nikah tapi anak yang lahir dari benih yang menikmati hasil yang haram. Biasanya, kalau orangtuanya kalong, anaknya pasti nyolong. Kalau orangtuanya copet, anaknya pasti nyopet. Namun, ada juga anak-anak yang mendapat rahmat, sehingga tidak mengikuti jejak orang tuannya.

Okelah, cukup sampai disitu. Kembali ke topik karena yang ingin saya tulis disini bukanlah soal pola-pola mendapatkan pekerjaan, apalagi dengan pola-pola terlarang. Saya ingin menulis tentang cerita seorang pekerja. Dan bisa jadi, cerita seorang pekerja ini merupakan isi hati dari kamu-kamu yang mengalami hal seperti ini.

Memiliki pekerjaan memang menjadi keinginan banyak orang. Namun, terkadang gaji yang didapat dari pekerjaan tersebut yang membuat sebagian orang pusing tujuh keliling. Jangankan untuk hari tua, untuk kehidupan sehari-hari saja tidak cukup. Dan cerita seorang pekerja ini kerap dialami oleh mereka yang bekerja dengan pendapatan dibawah rata-rata.

Bukan karena besarnya pengeluaran tapi pendapatan dibawah standar. Hal semacam ini biasanya simakalama bagi sebagian pekerja. Cari kerja lain susahnya minta ampun. Belum lagi kalau resign tabungan tidak ada. Tetap bekerja, ya gajinya hanya cukup sampai tanggal 10. Akibatnya, gali lubang tutup lubang. Baca juga apakah transparansi informasi itu titipan asing?

Hal semacam ini entah terlupakan atau sengaja dilupa-lupain oleh pemberi kerja. Biasanya menurut hemat saya, hal ini memang sengaja dilupa-lupain oleh sebagian pemberi kerja. Baca saja beberapa berita tentang menentang UMR kabupaten A atau UMR provinsi B. Sehingga tak sedikit lahir cerita cerita seorang pekerja yang membuat miris hati tentang kehidupannya dan kehidupan keluarganya.

Nah, kalau sudah begini apa solusi yang bisa dilakukan oleh seorang pekerja yang upahnya dibawah standar? Bangun bargaining position dengan cara terus meningkatkan kualitas diri. Terus jangan lupa untuk membangun jaringan sambil mempersiapkan sedikit modal.

Meningkatkan kualitas diri maksudnya adalah terus berupaya mempelajari hal-hal tertentu yang kamu sukai. Dan wajib dipastikan, hal tersebut akan mendatangkan income dikemudian hari. Namun, jangan lupa juga untuk terus meningkat kualitas diri dalam dunia kerja, misalkan dibidang tertentu dimana kamu saat ini bertumpu mencari nafkah.

Usahakan, jika suatu saat kelak kamu resign, tempatmu bekerja akan merasakan kehilangan. Artinya, kamu harus menjadikan dirimu sebagai asset yang tak dapat tergantikan dalam waktu sekejap. Dengan demikian, kamu bisa melakukan tawar menawar terkait honor yang kamu inginkan. Kalau pun tak mau dipenuhi, jangan sungkan dan takut untuk resign, sebab kamu sudah mempersiapkan hal yang mendatangkan income sebagaimana disebut diatas.

Baca juga tulisan saya tentang Anti ‘Klimaks’ HGU di Aceh

Yang kedua perlu kamu lakukan adalah teruslah membangun jaringan dengan banyak pihak. Terutama mereka-mereka yang mempunyai pengaruh yang luas dan juga informasi-informasi yang mendukungmu. Kalau hal terus terus dikembangkan, tentu akan mudah bagimu untuk mencari kerja yang baru yang sesuai dengan keinginan dan honor yang tidak membuatmu pusing tujuh keliling. Dan yang terpenting, pastikan dirimu mendapatkan kerja baru sebelum benar-benar resign dari tempat lama.

Terakhir, selesaikan semua tunggakan-tunggakan baik tunggakan pekerjaan ataupun tunggakan pinjaman. Hal ini perlu sehingga ketika kamu resign nanti kamu tidak terikat lagi dengan berbagai hal sepele ditempatmu bekerja. Atau tidak tertutup kemungkinan juga, kalau tunggakan ini tidak diselesaikan, kamu pasti akan menjadi bahan pembicaraan-pembicaraan negatif yang ujung-ujungnya akan mengganggu konsentrasi ditempat kerjamu yang baru. Solusi untuk Cerita Seorang Pekerja